Sabtu, 24 Agustus 2013

HOME SWEET HOME

 Apakah kita seringkali menganggap bahwa rumah kita hanyalah tempat untuk berlindung dari panas atau hujan? Ataukah kita pernah menganggap bahwa rumah kita adalah surga , tempat dimana kita bisa menjalin kebersamaan keluarga?
Mungkin banyak dari kita yang memang sangat sibuk di kantor atau juga sibuk karena wirausaha, atau mungkin juga sibuk karena hal-hal yang lainnya sehingga seringkali waktu kita di rumah dengan keluarga menjadi terabaikan.
Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa menjalin kebersamaan keluarga juga hal yang sangat penting dimana kita bisa lebih dekat mengenal anak-anak yang mungkin sudah kita tinggal seharian, bisa lebih harmonis dalam membina dan menciptakan suasana rumah tangga.

Ada beberapa kiat yang layaknya bisa dicoba untuk menciptakan surga di rumah kita:

1.  Jangan membawa pekerjaan kantor ke rumah.
Pulanglah tepat waktu dari kantor, sehingga kita masih mempunyai banyak waktu untuk keluarga (Bukankah tidak setiap saat kita harus melakukan pekerjaan lembur?). Dan usahakan jangan mengerjakan pekerjaan kantor kita di rumah karena hal tersebut sama halnya memindahkan kantor kita ke rumah.

2.  Jangan memikirkan pekerjaan kantor di rumah.
Sampai pintu gerbang rumah, usahakan pikiran mengenai pekerjaan kantor sudah dibuang jauh-jauh. Hal tersebut dapat membuat kita masuk ke rumah dengan perasaan lebih nyaman.

3.  Biasakan bersih dan rapi
Mengembalikan semua buku, majalah, mainan ataupun barang-barang yang lain pada tempatnya setelah memakai. Selain akan memudahkan kita mencari barang-barang tersebut jika diperlukan, hal tersebut juga akan membuat rumah terlihat rapi dan bersih. Sehingga kita merasa nyaman dan segar di dalamnya.

4.  Biasakan makan bersama
Apabila kita memang sangat sibuk, tetap usahakan makan malam di rumah. Kalau tetap tidak bisa, tetap usahakan beberapa kali dalam seminggu. Khusus untuk hari libur, maka kita dapat selalu makan bersama (pagi, siang, dan malam). Dengan makan bersama maka kita bisa menjalin keakraban antar anggota keluarga karena semuanya bebas bercerita mengenai pengalaman hari ini, mengemukakan pendapat, bertukar pikiran, bersenda gurau, bahkan tertawa bersama.

5.  Biasakan selalu berkomunikasi dengan anak
Berkomunikasi dengan anak tidak terbatas oleh tempat. Menemani anak menjelang tidur sambil bercerita-cerita mengenai berbagai hal seperti buku-buku cerita yang ia baca hari ini, mengenai temannya di sekolah atau hal-hal yang lain akan membuat kita lebih dekat dengan anak, juga membuat anak akan lebih terbuka dengan kita. Hal tersebut bisa dilakukan kira-kira selama 10  menit sampai dengan 15 menit. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan memudahkan kita untuk mengendalikan anak-anak kita dari hal-hal yang harus dihindarinya.

6.  Meluangkan waktu bermain
Pada hari libur, sebaiknya kita bermain dengan anak. Kita masuk ke dunia bermain mereka. Seperti main treasure hunt, UNO stacko, card games, lego,  dll. Bermain dengan gembira dan tertawa bersama akan membuat kita sekeluarga semakin akrab. Memang kadangkala kita sebagai orang dewasa sulit memahami permainan anak-anak, tetapi tidak ada salahnya kita berusaha memahami pemikiran dan fantasi seorang anak, karena hanya dengan itu kita bisa ikut “masuk” ke dalam dunia anak-anak kita dan mengerti pemikiran mereka sampai mereka remaja/dewasa kelak.

7.  Menyusun acara untuk keluarga
Membuat acara untuk keluarga. Misalkan merayakan ulang tahun. Kita dapat membuat pesta kecil di rumah berikut dengan kejutan manis yang tak terduga. Hal-hal semacam itu akan membuat kita dan keluarga semakin erat dalam menjalin kebersamaan. Kita sendiri pasti masih ingat kenangan manis dengan orang tua kita saat masih kanak-kanak, kenapa kita tidak berusaha membuat kenangan yang manis dikenang anak-anak kita ?.

8.  Libatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah tangga
Kita harus mulai mengajari anak bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga.  Contohnya, kita bisa meminta mereka membantu menyiapkan meja untuk makan malam, mengembalikan piring kotor ke dapur dan lain-lain. Dengan kegiatan seperti itu, maka kita akan semakin dekat dan akrab dengan anak-anak. Anak-anak juga akan menjadi lebih mandiri dan percaya diri dalam berbagai keadaan, karena mereka tahu mampu untuk mengerjakan tugas rumah tangga tanpa dibantu.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. Selamat mencoba. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

DON'T GIVE UP ON ME, MOM!


            Mungkin banyak yang sudah tahu tentang tulisan ini. Tapi tulisan ini sangat bagus dan mengena di hati saya. Saya juga terkadang merasa capek karena selalu mengingatkan anak-anak untuk hal yang sama. Dengan membaca tulisan ini saya sadar, memang saya harus terus bersabar dalam mengingatkan, memberitahu, dan mengajarkan hal yang sama berkali-kali kepada anak-anak. Semoga tulisan ini juga bermanfaat bagi orangtua lainnya.
            Pernahkah anda merasa lelah berusaha untuk anak anda? Sebagai ibu rumah tangga, saya sangat memahami bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah the hardest work, yet so little appreciation for it. Paling sulit dan terkadang merasa kurang dihargai. Tapi ini adalah tugas paling mulia, karena mendidik anak adalah seperti pekerjaan memahat, yang hasil akhirnya hanya akan terlihat apabila perkerjaan itu telah selesai. Sekarang terutama untuk anak-anak yang masih kecil, terkadang kita telah mengingatkan, memberitahu, mengajarkan hal yang sama berkali-kali. Namun, kalau boleh saya mewakili apa yang anak-anak anda akan katakan don’t give up on me, mom. I may be lazy, I may be hard on you, I may not listen to you, but that’s what children do.
            Kalau tidak diingatkan untuk berhenti bermain, anak tentu akan bermain sampai lelah. Kalau tidak diingatkan untuk makan makanan yang bergizi, tentu anak akan memilih makanan yang enak di lidah namun tidak bergizi. Kalau tidak diingatkan untuk mengerjakan PR, tentu anak akan memilih tetap bermain.
            Namun tugas kitalah sebagai orangtua untuk mengingatkan anak akan kewajibannya, bukan untuk membuat mereka sedih, tetapi demi kebaikan mereka sendiri, kepentingan mereka, bahwa pada akhirnya merekalah yang akan memetik hasilnya. Bukan dengan emosi, namun dengan hati gembira sehingga tugas yang sulitpun mampu dihadapi.
            Saya tahu ini tidak mudah, tetapi Tuhan telah memberi tugas sebagai orangtua dan saya yakin kita pasti mampu menjadi orangtua bagi anak kita. Amin.

Minggu, 18 Agustus 2013

WHO SHOULD TAKE COURSE?

Nowadays it is not odd to see parents let their children take a lot of courses altogether, include courses for school subjects. But is that a proper approach? is that the only solution available ?           

Parents may have a lot of reasons in put their children in such courses. May they are so busy for work so don’t have enough time spent to teach their kids. Or they may not well understand the subject, such as math or mandarin language. The other reason is parents want their children to master certain skills such as music, drawing or ballet etc.

In order to get best result of the courses we need to consider few aspect of our children such as :-

·         Stamina

First of all we need to ensure that our children are physically fit to take courses. Often after school times our children stamina need a rest. By watching our children stamina at this period of time we can ensure their active participation in the course.  If we found that our children stamina at this period is decrease, then let them take one or two hours rest may be the best solution, before taking any courses.

·         Interest and talents

School subject course is good to support the school activities but we shall not rely our children’s school result to the courses. There are a lot of courses that have different curriculum compare to the school. Our constant review and close supervision is still needed. We need to pick courses that provide curriculum in line with the school and at the same time able to fishing out children’s interest to the course subject.

Another alternative for providing additional learning to school subject is to have study group amongst the peers. By having the study group, children still can interact between themselves within relaxes atmosphere of a home and at the same time discussing or learning the school subject together. The key element of this study group is the parents hosting the study group. The parents need to ensure that relax atmosphere does not eliminate the seriousness of the learning.

Further as parents we obviously will provide nothing else but the best to our children. We want them to be success in their future and therefore armed them with additional skill courses. But do we realized that “the success” we imagine is often actually “our success” or “success by the way of our thinking”. As a successful professional, we usually want our children to be professional like us. Or may be as an entrepreneur we want our children to be a professional because we think this is the best for their future. But is this the real interest and talent within our children? Our children may have their own talent to be success in their own way.

Our children’s involvement in course will not optimum if the courses that they take is not in line with their interest or talent. Some children may even feel depressed if fail to recognize that they are not enjoy in such courses and we keep push them to actively participate in the course.  

With the above two thinking in our minds let us choose the best suitable way available for our children.

LES UNTUK SIAPA?

Jaman sekarang bukanlah hal aneh lagi, melihat anak-anak mengikuti berbagai les sekaligus, tak terkecuali pelajaran sekolah. Tetapi sudah tepatkah cara itu ?

Memang kebanyakan orangtua menginginkan anaknya les karena berbagai macam alasan. Bisa karena kedua orangtuanya sibuk bekerja hingga larut malam, ada juga karena orangtuanya tidak mengerti cara menjelaskan di salah satu mata pelajaran (contoh:  matematika), atau orangtuanya menginginkan anaknya bisa bermain musik, mungkin juga karena orangtuanya tidak mengerti sama sekali pelajaran tersebut (contoh: mandarin), dan berbagai macam alasan yang lain.

Tetapi seberapa jauh anak kita sungguh-sungguh menginginkan dan membutuhkan les-lesnya itu?
Mungkin kita memang perlu mendengarkan alasan anak kita dengan cermat. Hal itu penting untuk menggali seberapa jauh anak kita menikmati kegiatannya.
Setelah itu, mungkin kita perlu mengamati dan mengevaluasi kondisi anak. Apakah terjadi penurunan kesehatan akibat keletihan yang tinggi? Apakah tugas sekolah tetap bisa dikerjakan dengan tuntas? Bagaimana komentar dan pengamatan guru di sekolah mengenai kegiatan sehari-harinya di kelas? Apa yang menyebabkannya senang di tempat les? Bagaimana pendekatan guru atau metode belajar di tempat les? Banyakkah teman-teman barunya di sana? Apakah les tersebut “memperkaya” keterampilan belajarnya? Atau meningkatkan keterampilan bersosialisasinya?

Bila kita bisa memastikan bahwa anak membutuhkan dan menginginkan kegiatannya itu, jika potensi anak berkembang lebih baik dan kesehatannya tidak terganggu. Kita tidak perlu ragu-ragu meneruskan seluruh les yang telah anak kita ikuti.
Tetapi kalau dalam pengamatan ternyaya kita menemukan fisik anak menurun karena kelelahan, mau tidak mau kita perlu tentukan prioritas. Libatkan anak dalam penentuan prioritas ini supaya ia juga belajar tidak setiap saat ia bisa melakukan semua hal yang diinginkannya.