HOME SWEET HOME
Apakah kita seringkali menganggap bahwa rumah kita hanyalah tempat untuk
berlindung dari panas atau hujan? Ataukah kita pernah menganggap bahwa rumah
kita adalah surga , tempat dimana kita bisa menjalin kebersamaan keluarga?
Mungkin banyak dari kita yang memang sangat sibuk di kantor atau juga
sibuk karena wirausaha, atau mungkin juga sibuk karena hal-hal yang lainnya
sehingga seringkali waktu kita di rumah dengan keluarga menjadi terabaikan.
Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa menjalin kebersamaan keluarga juga
hal yang sangat penting dimana kita bisa lebih dekat mengenal anak-anak yang
mungkin sudah kita tinggal seharian, bisa lebih harmonis dalam membina dan
menciptakan suasana rumah tangga.
Ada beberapa kiat yang layaknya bisa dicoba untuk menciptakan surga di
rumah kita:
1. Jangan
membawa pekerjaan kantor ke rumah.
Pulanglah tepat waktu dari kantor, sehingga kita masih mempunyai banyak
waktu untuk keluarga (Bukankah tidak setiap saat kita harus melakukan pekerjaan
lembur?). Dan usahakan jangan mengerjakan pekerjaan kantor kita di rumah karena
hal tersebut sama halnya memindahkan kantor kita ke rumah.
2. Jangan
memikirkan pekerjaan kantor di rumah.
Sampai pintu gerbang rumah, usahakan pikiran mengenai pekerjaan kantor
sudah dibuang jauh-jauh. Hal tersebut dapat membuat kita masuk ke rumah dengan
perasaan lebih nyaman.
3. Biasakan
bersih dan rapi
Mengembalikan semua buku, majalah, mainan ataupun barang-barang yang
lain pada tempatnya setelah memakai. Selain akan memudahkan kita mencari
barang-barang tersebut jika diperlukan, hal tersebut juga akan membuat rumah
terlihat rapi dan bersih. Sehingga kita merasa nyaman dan segar di dalamnya.
4. Biasakan
makan bersama
Apabila kita memang sangat sibuk, tetap usahakan makan malam di rumah. Kalau
tetap tidak bisa, tetap usahakan beberapa kali dalam seminggu. Khusus untuk
hari libur, maka kita dapat selalu makan bersama (pagi, siang, dan malam).
Dengan makan bersama maka kita bisa menjalin keakraban antar anggota keluarga
karena semuanya bebas bercerita mengenai pengalaman hari ini, mengemukakan
pendapat, bertukar pikiran, bersenda gurau, bahkan tertawa bersama.
5. Biasakan
selalu berkomunikasi dengan anak
Berkomunikasi dengan anak tidak terbatas oleh tempat. Menemani anak
menjelang tidur sambil bercerita-cerita mengenai berbagai hal seperti buku-buku
cerita yang ia baca hari ini, mengenai temannya di sekolah atau hal-hal yang
lain akan membuat kita lebih dekat dengan anak, juga membuat anak akan lebih
terbuka dengan kita. Hal tersebut bisa dilakukan kira-kira selama 10 menit sampai dengan 15 menit. Komunikasi yang
terjalin dengan baik akan memudahkan kita untuk mengendalikan anak-anak kita
dari hal-hal yang harus dihindarinya.
6. Meluangkan
waktu bermain
Pada hari libur, sebaiknya kita bermain dengan anak. Kita masuk ke dunia
bermain mereka. Seperti main treasure
hunt, UNO stacko, card games, lego, dll. Bermain dengan gembira dan tertawa
bersama akan membuat kita sekeluarga semakin akrab. Memang kadangkala kita
sebagai orang dewasa sulit memahami permainan anak-anak, tetapi tidak ada
salahnya kita berusaha memahami pemikiran dan fantasi seorang anak, karena
hanya dengan itu kita bisa ikut “masuk” ke dalam dunia anak-anak kita dan
mengerti pemikiran mereka sampai mereka remaja/dewasa kelak.
7. Menyusun
acara untuk keluarga
Membuat acara untuk keluarga. Misalkan merayakan ulang tahun. Kita dapat
membuat pesta kecil di rumah berikut dengan kejutan manis yang tak terduga.
Hal-hal semacam itu akan membuat kita dan keluarga semakin erat dalam menjalin
kebersamaan. Kita sendiri pasti masih ingat kenangan manis dengan orang tua
kita saat masih kanak-kanak, kenapa kita tidak berusaha membuat kenangan yang
manis dikenang anak-anak kita ?.
8. Libatkan
anak-anak dalam pekerjaan rumah tangga
Kita harus mulai mengajari anak bertanggung jawab terhadap pekerjaan
rumah tangga. Contohnya, kita bisa
meminta mereka membantu menyiapkan meja untuk makan malam, mengembalikan piring
kotor ke dapur dan lain-lain. Dengan kegiatan seperti itu, maka kita akan
semakin dekat dan akrab dengan anak-anak. Anak-anak juga akan menjadi lebih
mandiri dan percaya diri dalam berbagai keadaan, karena mereka tahu mampu untuk
mengerjakan tugas rumah tangga tanpa dibantu.
Semoga
tulisan ini dapat bermanfaat. Selamat mencoba. Tuhan memberkati kita semua.
Amin.
DON’T GIVE UP ON ME, MOM!
Mungkin banyak yang sudah
tahu tentang tulisan ini. Tapi tulisan ini sangat bagus dan mengena di hati
saya. Saya juga terkadang merasa capek karena selalu mengingatkan anak-anak
untuk hal yang sama. Dengan membaca tulisan ini saya sadar, memang saya harus
terus bersabar dalam mengingatkan, memberitahu, dan mengajarkan hal yang sama
berkali-kali kepada anak-anak. Semoga tulisan ini juga bermanfaat bagi orangtua
lainnya.
Pernahkah anda merasa lelah berusaha untuk anak anda?
Sebagai ibu rumah tangga, saya sangat memahami bahwa menjadi ibu rumah tangga
adalah the hardest work, yet so little appreciation for it. Paling
sulit dan terkadang merasa kurang dihargai. Tapi ini adalah tugas paling mulia,
karena mendidik anak adalah seperti pekerjaan memahat, yang hasil akhirnya
hanya akan terlihat apabila perkerjaan itu telah selesai. Sekarang terutama
untuk anak-anak yang masih kecil, terkadang kita telah mengingatkan,
memberitahu, mengajarkan hal yang sama berkali-kali. Namun, kalau boleh saya
mewakili apa yang anak-anak anda akan katakan don’t give up on me, mom. I may
be lazy, I may be hard on you, I may not listen to you, but that’s what
children do.
Kalau tidak diingatkan untuk berhenti bermain, anak tentu
akan bermain sampai lelah. Kalau tidak diingatkan untuk makan makanan yang
bergizi, tentu anak akan memilih makanan yang enak di lidah namun tidak
bergizi. Kalau tidak diingatkan untuk mengerjakan PR, tentu anak akan memilih
tetap bermain.
Namun tugas kitalah sebagai orangtua untuk mengingatkan
anak akan kewajibannya, bukan untuk membuat mereka sedih, tetapi demi kebaikan
mereka sendiri, kepentingan mereka, bahwa pada akhirnya merekalah yang akan
memetik hasilnya. Bukan dengan emosi, namun dengan hati gembira sehingga
tugas yang sulitpun mampu dihadapi.
Saya tahu ini tidak mudah, tetapi Tuhan telah memberi
tugas sebagai orangtua dan saya yakin kita pasti mampu menjadi orangtua bagi
anak kita. Amin.
WHO SHOULD TAKE COURSE?
Nowadays
it is not odd to see parents let their children take a lot of courses
altogether, include courses for school subjects. But is that a proper approach?
is that the only solution available ?
Parents
may have a lot of reasons in put their children in such courses. May they are
so busy for work so don’t have enough time spent to teach their kids. Or they
may not well understand the subject, such as math or mandarin language. The
other reason is parents want their children to master certain skills such as
music, drawing or ballet etc.
In
order to get best result of the courses we need to consider few aspect of our
children such as :-
·
Stamina
First
of all we need to ensure that our children are physically fit to take courses.
Often after school times our children stamina need a rest. By watching our
children stamina at this period of time we can ensure their active
participation in the course. If we found
that our children stamina at this period is decrease, then let them take one or
two hours rest may be the best solution, before taking any courses.
·
Interest
and talents
School
subject course is good to support the school activities but we shall not rely
our children’s school result to the courses. There are a lot of courses that
have different curriculum compare to the school. Our constant review and close
supervision is still needed. We need to pick courses that provide curriculum in
line with the school and at the same time able to fishing out children’s
interest to the course subject.
Another
alternative for providing additional learning to school subject is to have
study group amongst the peers. By having the study group, children still can
interact between themselves within relaxes atmosphere of a home and at the same
time discussing or learning the school subject together. The key element of
this study group is the parents hosting the study group. The parents need to
ensure that relax atmosphere does not eliminate the seriousness of the
learning.
Further
as parents we obviously will provide nothing else but the best to our children.
We want them to be success in their future and therefore armed them with
additional skill courses. But do we realized that “the success” we imagine is
often actually “our success” or “success by the way of our thinking”. As a
successful professional, we usually want our children to be professional like
us. Or may be as an entrepreneur we want our children to be a professional
because we think this is the best for their future. But is this the real
interest and talent within our children? Our children may have their own talent
to be success in their own way.
Our
children’s involvement in course will not optimum if the courses that they take
is not in line with their interest or talent. Some children may even feel
depressed if fail to recognize that they are not enjoy in such courses and we
keep push them to actively participate in the course.
With
the above two thinking in our minds let us choose the best suitable way
available for our children.
Tips Agar Anak Suka Membaca
“Membaca adalah kunci ajaib untuk membawamu ke mana saja kau suka”
Apakah anak Anda
tidak suka membaca? Apakah anak Anda selalu menghindar pada waktu kita sedang
membaca? Atau bahkan di sekolah, ia selalu bertingkah jika ada pelajaran
membaca?
Mungkin anak yang
tidak suka bahkan benci untuk membaca dikarenakan anak belum tahu betapa
menyenangkan membaca itu. Oleh karena itu kita tinggal mencari atau membuat
kegiatan supaya membaca itu menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Berikut
tips agar anak suka membaca :
1. Membacakan
cerita yang lucu dengan intonasi serta mimik muka yang kita buat seperti gambar
di buku. Hal; itu akan membuat anak tertarik dengan buku yang sedang dibacakan.
2. Berilah
buku bacaan yang tipis dan penuh dengan gambar serta tulisan yang tidak terlalu
banyak yang gampang dibaca olehnya.
Biasanya
anak akan melihat gambar-gambar yang ada di buku terlebih dahulu. Berilah
komentar pada gambar yang sedang dilihat oleh anak, seperti gambar muka yang
sedang tertawa, sedang marah, sedang sedih dan lain-lain.
Setelah
tertarik dengan gambar, anak akan berkeinginan mengetahui isi ceritanya. Dengan
tulisan yang gampang dibaca (maksudnya tidak terlalu kecil), maka anak akan mau
mulai membaca.
3. Meluangkan
waktu membaca buku bersama-sama dengan keluarga
Dengan
membaca buku bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain dapat memancing
minat baca anak.
4. Perlihatkan
bahwa dengan membaca buku, kita bisa mendapat bermacam-macam hal. Contohnya :
Pada waktu mengerjakan tugas Science mengenai
anggota tubuh binatang, kita bisa membuka buku Kamus Visual sebagai buku
panduan untuk menjawab.
5. Jangan
pernah memaksa anak untuk membaca. Ingat! Anak semakin mogok apabila kita
menyuruh melakukan sesuatu yang tidak ia suka.
6. Jangan
pernah memberi cap pada anak. Misal “si Malas Baca”. Karena anak yang diberi
cap tersebut akan merasa dirinya memang demikian, maka dia tidak mau berusaha.
Ingatlah, bahwa anak
akan selalu mengulangi kegiatan yang menyenangkan baginya. Maka sekali dia
senang dengan membaca, maka dia akan selalu mengulang kegiatan itu.
God Bless You
LES UNTUK SIAPA ?
Jaman
sekarang bukanlah hal aneh lagi, melihat anak-anak mengikuti berbagai les
sekaligus, tak terkecuali pelajaran sekolah. Tetapi sudah tepatkah cara itu ?
Memang
kebanyakan orangtua menginginkan anaknya les karena berbagai macam alasan. Bisa
karena kedua orangtuanya sibuk bekerja hingga larut malam, ada juga karena
orangtuanya tidak mengerti cara menjelaskan di salah satu mata pelajaran (contoh:
matematika), atau orangtuanya
menginginkan anaknya bisa bermain musik, mungkin juga karena orangtuanya tidak
mengerti sama sekali pelajaran tersebut (contoh: mandarin), dan berbagai macam
alasan yang lain.
Tetapi
seberapa jauh anak kita sungguh-sungguh menginginkan dan membutuhkan les-lesnya
itu?
Mungkin
kita memang perlu mendengarkan alasan anak kita dengan cermat. Hal itu penting
untuk menggali seberapa jauh anak kita menikmati kegiatannya.
Setelah
itu, mungkin kita perlu mengamati dan mengevaluasi kondisi anak. Apakah terjadi
penurunan kesehatan akibat keletihan yang tinggi? Apakah tugas sekolah tetap
bisa dikerjakan dengan tuntas? Bagaimana komentar dan pengamatan guru di
sekolah mengenai kegiatan sehari-harinya di kelas? Apa yang menyebabkannya
senang di tempat les? Bagaimana pendekatan guru atau metode belajar di tempat
les? Banyakkah teman-teman barunya di sana?
Apakah les tersebut “memperkaya” keterampilan belajarnya? Atau meningkatkan
keterampilan bersosialisasinya?
Bila
kita bisa memastikan bahwa anak membutuhkan dan menginginkan kegiatannya itu,
jika potensi anak berkembang lebih baik dan kesehatannya tidak terganggu. Kita
tidak perlu ragu-ragu meneruskan seluruh les yang telah anak kita ikuti.
Tetapi
kalau dalam pengamatan ternyaya kita menemukan fisik anak menurun karena
kelelahan, mau tidak mau kita perlu tentukan prioritas. Libatkan anak dalam
penentuan prioritas ini supaya ia juga belajar tidak setiap saat ia bisa
melakukan semua hal yang diinginkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar