Minggu, 18 Agustus 2013

LES UNTUK SIAPA?

Jaman sekarang bukanlah hal aneh lagi, melihat anak-anak mengikuti berbagai les sekaligus, tak terkecuali pelajaran sekolah. Tetapi sudah tepatkah cara itu ?

Memang kebanyakan orangtua menginginkan anaknya les karena berbagai macam alasan. Bisa karena kedua orangtuanya sibuk bekerja hingga larut malam, ada juga karena orangtuanya tidak mengerti cara menjelaskan di salah satu mata pelajaran (contoh:  matematika), atau orangtuanya menginginkan anaknya bisa bermain musik, mungkin juga karena orangtuanya tidak mengerti sama sekali pelajaran tersebut (contoh: mandarin), dan berbagai macam alasan yang lain.

Tetapi seberapa jauh anak kita sungguh-sungguh menginginkan dan membutuhkan les-lesnya itu?
Mungkin kita memang perlu mendengarkan alasan anak kita dengan cermat. Hal itu penting untuk menggali seberapa jauh anak kita menikmati kegiatannya.
Setelah itu, mungkin kita perlu mengamati dan mengevaluasi kondisi anak. Apakah terjadi penurunan kesehatan akibat keletihan yang tinggi? Apakah tugas sekolah tetap bisa dikerjakan dengan tuntas? Bagaimana komentar dan pengamatan guru di sekolah mengenai kegiatan sehari-harinya di kelas? Apa yang menyebabkannya senang di tempat les? Bagaimana pendekatan guru atau metode belajar di tempat les? Banyakkah teman-teman barunya di sana? Apakah les tersebut “memperkaya” keterampilan belajarnya? Atau meningkatkan keterampilan bersosialisasinya?

Bila kita bisa memastikan bahwa anak membutuhkan dan menginginkan kegiatannya itu, jika potensi anak berkembang lebih baik dan kesehatannya tidak terganggu. Kita tidak perlu ragu-ragu meneruskan seluruh les yang telah anak kita ikuti.
Tetapi kalau dalam pengamatan ternyaya kita menemukan fisik anak menurun karena kelelahan, mau tidak mau kita perlu tentukan prioritas. Libatkan anak dalam penentuan prioritas ini supaya ia juga belajar tidak setiap saat ia bisa melakukan semua hal yang diinginkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar