Jaman
sekarang bukanlah hal aneh lagi, melihat anak-anak mengikuti berbagai les
sekaligus, tak terkecuali pelajaran sekolah. Tetapi sudah tepatkah cara itu ?
Memang
kebanyakan orangtua menginginkan anaknya les karena berbagai macam alasan. Bisa
karena kedua orangtuanya sibuk bekerja hingga larut malam, ada juga karena
orangtuanya tidak mengerti cara menjelaskan di salah satu mata pelajaran (contoh:
matematika), atau orangtuanya
menginginkan anaknya bisa bermain musik, mungkin juga karena orangtuanya tidak
mengerti sama sekali pelajaran tersebut (contoh: mandarin), dan berbagai macam
alasan yang lain.
Tetapi
seberapa jauh anak kita sungguh-sungguh menginginkan dan membutuhkan les-lesnya
itu?
Mungkin
kita memang perlu mendengarkan alasan anak kita dengan cermat. Hal itu penting
untuk menggali seberapa jauh anak kita menikmati kegiatannya.
Setelah
itu, mungkin kita perlu mengamati dan mengevaluasi kondisi anak. Apakah terjadi
penurunan kesehatan akibat keletihan yang tinggi? Apakah tugas sekolah tetap
bisa dikerjakan dengan tuntas? Bagaimana komentar dan pengamatan guru di
sekolah mengenai kegiatan sehari-harinya di kelas? Apa yang menyebabkannya
senang di tempat les? Bagaimana pendekatan guru atau metode belajar di tempat
les? Banyakkah teman-teman barunya di sana?
Apakah les tersebut “memperkaya” keterampilan belajarnya? Atau meningkatkan
keterampilan bersosialisasinya?
Bila
kita bisa memastikan bahwa anak membutuhkan dan menginginkan kegiatannya itu,
jika potensi anak berkembang lebih baik dan kesehatannya tidak terganggu. Kita
tidak perlu ragu-ragu meneruskan seluruh les yang telah anak kita ikuti.
Tetapi
kalau dalam pengamatan ternyaya kita menemukan fisik anak menurun karena
kelelahan, mau tidak mau kita perlu tentukan prioritas. Libatkan anak dalam
penentuan prioritas ini supaya ia juga belajar tidak setiap saat ia bisa
melakukan semua hal yang diinginkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar